Langsung ke konten utama

Sejarah Perekonomian Indonesia


Sejarah Perekonomian Indonesia



Elfrido Naufal Christaliano
(22218203)



1.     Masa Kerajaan – Kerajaan Kuno

a.      Kerajaan Sriwijaya


Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat dalam jalur perdagangan, menjadi kerajaan utama yang mengendalikan 2 jalur perdagangan utama antara China dan India. Dalam suatu catatan pedagang arab, luasnya wilayah kerajaan yang begitu besar membuat kapal yang cepat pun tidak mampu mengelilingi pulau yang menghasilkan rempah. Kerajaan Sriwijaya juga melakukan hubungan dagang dengan kerajaan di Jazirah, Arab.

            b.     Kerajaan Majapahit 



Merupakan kerajaan maritim sebagai pusat perdagangan dan ekonomi di nusantara. Kerajaan Majapahit banyak menghasilkan rempah rempah dan mempunyai hewan – hewan yang jarang ditemui.. Kegiatan transaksi sehari – hari dalam perekonomian di pulau jawa seperti membeli atau menjual barang, membayar pajak dan denda termonetisasi secara parsial, menggunakan koin emas dan perak sebagai alat transaksi.

2.      Jaringan Perdagangan Islam
                         

                          
Pedagang Muslim telah menyebarkan agama Islam di sepanjang rute perdagangan yang menghubungkan Dunia Islam yang membentang dari Mediterania, Timur Tengah, India, Kepulauan di Asia Tenggara dan China. Para pedagang Muslim dari jazirah Arab dan teluk berlayar melintasi nusantara dalam perjalanan mereka ke menuju China, sejak perjalanan perdananya pada abad ke-9 yang dibuktikan melalui penemuan Bangkai kapal Belitung yang berisi muatan dari Cina di lepas pantai Pulau Belitung. Kehadiran para pedagang Muslim menjadi salah satu penguat pengaruh berdirinya Kerajaan Islam di nusantara yang bertepatan dengan jatuhnya kerajaan Hindu-Buddha. Pada abad ke-13, Islam telah memiliki pijakan di Indonesia melalui berbagai kerajaan bernuansa Islam seperti Kesultanan Samudera Pasai di Aceh dan Kesultanan Ternate di Kepulauan Maluku. Maluku yang merupakan daerah penghasil rempah-rempah mendapatkan namanya dari bahasa arab "Jazirat al Muluk" yang berarti "kepulauan para raja".

3.      Perdagangan Komoditas Rempah-Rempah Oleh Eropa



Pertama kali didatangi oleh Portugis yang ingin menguasai rempah rempah. Namun gagal dengan perlawanan ternate. Lalu Belanda dengan VOC berhasil menguasai Nusantara dan menguasai rempah rempah yang ada di Indonesia. VOC sebagai organisasi dagang buatan belanda yang mempunyai kebijakan kebijakan sendiri di Nusantara.

4.      Ekonomi Kolonial Belanda


Setelah VOC bubar, Belanda kembali menguasai perekonomian Indonesia untuk mengisi anggaran negara yang kosong, salah satunya dengan penguasaan pulau jawa beserta sumber dayanya. Melakukan kebijakan kebijakan untuk mendorong produksi rempah rempah, memaksa petani untuk menanam tanaman yang laku di pasar dunia. 

5.      Republik Indonesia
a.       Masa Presiden Soekarno 


Mengalami tiga fase perekonomian di era Presiden Soekarno. Fase pertama yakni penataan ekonomi pasca-kemerdekaan, kemudian fase memperkuat pilar ekonomi, serta fase krisis yang mengakibatkan inflasi. Pada awal pemerintahan Soekarno, PDB per kapita Indonesia sebesar Rp 5.523.863. Pada 1961, Badan Pusat Statistik mengukur pertumbuhan ekonomi sebesar 5,74 persen. Setahun berikutnya masih sama, ekonomi Indonesia tumbuh 5,74 persen. Lalu, pada 1963, pertumbuhannya minus 2,24 persen. Angka minus pertumbuhan ekonomi tersebut dipicu biaya politik yang tinggi. Akibatnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit minus Rp 1.565,6 miliar. Inflasi melambung atau hiperinflasi sampai 600 persen hingga 1965. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat kembali ke angka positif pada 1964, yaitu sebesar 3,53 persen. Setahun kemudian, 1965, angka itu masih positif meski turun menjadi 1,08 persen. Terakhir di era Presiden Soekarno, 1966, ekonomi Indonesia tumbuh 2,79 persen.

b.       Masa Presiden Soeharto 


Ia menjadi presiden di saat perekonomian Indonesia tak dalam kondisi baik. Pada 1967, ia mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal Asing. UU ini membuka lebar pintu bagi investor asing untuk menanam modal di Indonesia. Tahun berikutnya, Soeharto membuat Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang mendorong swasembada. Program ini mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga tembus 10,92 persen pada 1970. Ekonom Lana Soelistianingsih menyebut, iklim ekonomi Indonesia pada saat itu lebih terarah, dengan sasaran memajukan pertanian dan industri. Hal ini membuat ekonomi Indonesia tumbuh drastis. Setelah itu, di tahun-tahun berikutnya, hingga sekitar tahun 1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tinggi dan terjaga di kisaran 6-7 persen. Namun, selama Soeharto memerintah, kegiatan ekonomi terpusat pada pemerintahan dan dikuasai kroni-kroni presiden. Kondisinya keropos. Pelaku ekonomi tak menyebar seperti saat ini, dengan 70 persen perekonomian dikuasai pemerintah. Begitu dunia mengalami gejolak pada 1998, struktur ekonomi Indonesia yang keropos itu tak bisa menopang perekonomian nasional. "Ketika krisis, pemerintah kehilangan pijakan, ya bubarlah perekonomian Indonesia karena sangat bergantung pada pemerintah," kata Lana. Posisi Bank Indonesia (BI) pada era Soeharto juga tak independen. BI hanya alat penutup defisit pemerintah. Begitu BI tak bisa membendung gejolak moneter, maka terjadi krisis dan inflasi tinggi hingga 80 persen. Pada 1998, negara bilateral pun menarik diri untuk membantu ekonomi Indonesia, yaitu saat krisis sudah tak terhindarkan. Pertumbuhan ekonomi pun merosot menjadi minus 13,13 persen. Pada tahun itu, Indonesia menandatangani kesepakatan dengan Badan Moneter Internasional (IMF). Gelontoran utang dari lembaga ini mensyaratkan sejumlah perubahan kebijakan ekonomi di segala lini.

c.       Masa Presiden B.J. Habibie 


Presiden Baharuddin Jusuf Habibie dikenal sebagai rezim transisi. Salah satu tantangan sekaligus capaiannya adalah pemulihan kondisi ekonomi, dari posisi pertumbuhan minus 13,13 persen pada 1998 menjadi 0,79 persen pada 1999. Habibie menerbitkan berbagai kebijakan keuangan dan moneter dan membawa perekonomian Indonesia ke masa kebangkitan. Kurs rupiah juga menguat dari sebelumnya Rp 16.650 per dollar AS pada Juni 1998 menjadi Rp 7.000 per dollar AS pada November 1998. Pada masa Habibie, Bank Indonesia mendapat status independen dan keluar dari jajaran eksekutif.

d.       Masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur)


Gus Dur meneruskan perjuangan Habibie mendongkrak pertumbuhan ekonomi pasca krisis 1998. Secara perlahan, ekonomi Indonesia tumbuh 4,92 persen pada 2000. Gus Dur menerapkan kebijakan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah. Pemerintah membagi dana secara berimbang antara pusat dan daerah. Kemudian, pemerintah juga menerapkan pajak dan retribusi daerah. Meski demikian, ekonomi Indonesia pada 2001 tumbuh melambat menjadi 3,64 persen.

e.       Masa Presiden Megawati


Pada masa pemerintahan Megawati, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara bertahap terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2002, pertumbuhan Indonesia mencapai 4,5 persen dari 3,64 persen pada tahun sebelumnya. Kemudian, pada 2003, ekonomi tumbuh menjadi 4,78 persen. Di akhir pemerintahan Megawati pada 2004, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03 persen. Tingkat kemiskinan pun terus turun dari 18,4 persen pada 2001, 18,2 persen pada 2002, 17,4 persen pada 2003, dan 16,7 persen pada 2004. "Saat itu mulai ada tanda perbaikan yang lebih konsisten. Kita tak bisa lepaskan bahwa proses itu juga dipengaruhi politik. Reformasi politik juga mereformasi ekonomi kita," kata Lana. Perbaikan yang dilakukan pemerintah saat itu yakni menjaga sektor perbankan lebih ketat hingga menerbitkan surat utang atau obligasi secara langsung. Saat itu, kata Lana, perekonomian Indonesia mulai terarah kembali. Meski tak ada lagi repelita seperti di era Soeharto, namun ekonomi Indonesia bisa lebih mandiri dengan tumbuhnya pelaku-pelaku ekonomi.

f.       Masa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono


Meski naik-turun, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) relatif stabil. Pertumbuhan Indonesia cukup menggembirakan di awal pemerintahannya, yakni 5,69 persen pada 2005. Pada 2006, pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit melambat jadi 5,5 persen. Di tahun berikutnya, ekonomi Indonesia tumbuh di atas 6 persen, tepatnya 6,35 persen. Lalu, pada 2008, pertumbuhan ekonomi masih di atas 6 persen meski turun tipis ke angka 6,01 persen. Saat itu, impor Indonesia terbilang tinggi. Namun, angka ekspor juga tinggi sehingga neraca perdagangan lumayan berimbang. Pada 2009, di akhir periode pertama sekaligus awal periode kedua kepemimpinan SBY, ekonomi Indonesia tumbuh melambat di angka 4,63 persen. Perlambatan tersebut merupakan dampak krisis finansial global yang tak hanya dirasakan Indonesia tetapi juga ke negara lain. Pada tahun itu, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga yang membuat harga komoditas global naik. "Saat Bank Sentral AS menarik dana dari publik, tidak injeksi lagi, harga komoditas melambat lagi. Kita mulai keteteran," kata Lana. "Ekspor kita memang tinggi, tapi impornya lebih tinggi," tambah dia. Meski begitu, Indonesia masih bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi walaupun melambat. Pada tahun itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masuk tiga terbaik di dunia. Lalu, pada 2010, ekonomi Indonesia kembali tumbuh dengan capaian 6,22 persen. Pemerintah juga mulai merancang rencana percepatan pembangunan ekonomi Indonesia jangka panjang. Pada 2011, ekonomi Indonesia tumbuh 6,49 persen, berlanjut dengan pertumbuhan di atas 6 persen pada 2012 yaitu di level 6,23 persen. Namun, perlambatan kembali terjadi setelah itu, dengan capaian 5,56 persen pada 2013 dan 5,01 persen pada 2014.

g.       Masa Presiden Joko Widodo


Pada masa pemerintahannya, Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi merombak struktur APBN dengan lebih mendorong investasi, pembangunan infrastruktur, dan melakukan efisiensi agar Indonesia lebih berdaya saing. Namun, grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia selama empat tahun masa pemerintahan Jokowi terus berada di bawah pertumbuhan pada era SBY. Pada 2015, perekonomian Indonesia kembali terlihat rapuh. Rupiah terus menerus melemah terhadap dollar AS. Saat itu, ekonomi Indonesia tumbuh 4,88 persen. "Defisit semakin melebar karena impor kita cenderung naik atau ekspor kita yang cenderung turun," kata Lana. Di era Jokowi kata Lana, arah perekonomian Indonesia tak terlihat jelas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) seolah hanya sebagai dokumen tanpa pengawasan dalam implementasinya. Dalam kondisi itu, tak diketahui sejauh mana RPJMN terealisasi. Ini tidak seperti repelita yang lebih fokus dan pengawasannya dilakukan dengan baik sehingga bisa dijaga. Pada 2016, ekonomi Indonesia mulai terdongkrak tumbuh 5,03 persen. Dilanjutkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,17. Berdasarkan asumsi makro dalam APBN 2018, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomis 2018 secara keseluruhan mencapai 5,4 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2018 ternyata tak cukup menggembirakan, hanya 5,06 persen. Sementara pada kuartal II-2018, ekonomi tumbuh 5,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hanya ada sedikit perbaikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada Senin (5/11/2018), BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2018 sebesar 5,17 persen, malah melambat lagi dibandingkan kuartal sebelumnya. Untuk kuartal IV-2018, pertumbuhan ekonomi diprediksi meleset dari asumsi APBN. Bank Indonesia, misalnya, memprediksi pertumbuhan Indonesia secara keseluruhan pada 2018 akan berada di batas bawah 5 persen.



Daftar Pustaka


Komentar

Postingan populer dari blog ini

STATISTIKA 2 : Soal Latihan 2

Nama : Elfrido Naufal Christaliano Kelas : 2EB03 NPM : 22218203 Soal No.1 Mata kuliah Statistika diikuti oleh mahasiswa jenjang D3 dan mahasiswa jenjang S1. Dari 40 mahasiswa D3 diketahui nilai rata rata UTS 70 dengan simpangan baku 8, sedangkan dari 36 mahasiswa S1 diketahui nilai rata rata UTS 72 dengan simpangan baku 5, apakah ada beda nilai Statistika 2 pada mahasiswa jenjang D3 dan S1? Tingkat signifikan 92% Jawab : Soal No. 2 Sebuah perusahaan mainan memproduksi mobil-mobilan dengan remote control yang menggunakan dua baterai. dari 25 baterai diketahui rata-rata umur baterai yang digunakkan di produk ini adalah 35 jam. Distribusi umur baterai mendekati distribusi probabilitas normal dengan standar deviasi 5,5 jam. Dugalah rata rata umur baterai pada tingkat signifikan 90% Jawab :

Makalah Segmentasi Pasar

Makalah Segmentasi Pasar Pepsodent Diajukan untuk memenuhi tugas  Mata Kuliah : Pengantar Bisnis Disusun Oleh : Elfrido Naufal Christaliano (22218203) Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma  Jl. Margonda Raya No.427, Pondok Cina, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang              Identifikasi target pasar    merupakan langkah awal yang dibutuhkan dalam perencanaan dan pengembangan straregi pemasaran. Dalam situasi dimana konsumen menghadapi  banyak pilihan, maka kesuksesan pemasaran produk akan banyak ditentukan oleh kesesuaian produk dengan kebutuhan konsumen pada segmen tertentu.             Perusahaan tidak d apat berhubungan dengan semua pelanggannya di pasar yang besar, luas, atau beragam. Tetapi mereka dapat membagi pasar seperti itu menjadi kelompok konsumen atau segmen dengan kebutuhan dan keinginan berbeda. Kemudian perusahaan harus mengiden...

Tugas Statistika

Nama : Elfrido Naufal C Kelas : 2EB03 NPM : 22218203 Soal 1 Berdasarkan data dari 5 buah warnet di Margonda, diketahui waktu rata-rata 64 pengguna  internet melakukan penjelajahan (browsing) 420 menit setiap minggu dengan simpangan  baku 22.5 menit. Pengusaha warnet ingin menanbah jumlah PC yang mereka sediakan,  sebelumnya mereka perlu informasi tentang rata-rata waktu yang digunakan seseorang  untuk browsing. Prediksilah rata-rata waktu yang digunakan seseorang setiap minggu  untuk browsing. Tingkat signifikan 98%. Jawab: Soal 2 ZIP-Net suatu Internet Provider mencatat rata-rata waktu 36 pelanggan mengakses website  bergambar secara lengkap 210 detik, dengan simpangan baku 30 detik. ZIP-Net  bermaksud menambahkan perangkat lunak pengolah gambar yang memungkinkan  pelanggan lebih cepat mengakses website bergambar. Sebelumnya perusahaan ini ingin  mengetahui kecepatan rata-rata seseorang dalam mengakses ga...